Negara Raksasa Ini Darurat, Inflasi Meledak-Swasta Peyot

SHARE  

Relatives wait outside as rescue workers continue to conduct search and rescue effort at the site of a collapsed building in Ikoyi, Lagos, Nigeria, November 2, 2021. REUTERS/Temilade Adelaja Foto: (REUTERS/Temilade Adelaja)

Jakarta, CNBC Indonesia¬†– Negara ‘raksasa’ ekonomi di Afrika, Nigeria, sedang sakit. Negara itu kini harus berjuang untuk mengatasi krisis mata uang dan melonjaknya inflasi.

Hal ini sesuai dengan peringatan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF), Senin lalu. Dalam pemaparannya, IMF mengatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai 2,8% pada tahun 2023, angka ini masih jauh dari tingkat yang dibutuhkan, untuk mendukung pertumbuhan penduduk yang cepat di negara tersebut.

Baca: Gedung Putih Tiba-Tiba Beri Pesan Khusus ke Prabowo, Ada Apa?

“Peningkatan produksi minyak dan perkiraan panen yang lebih baik pada paruh kedua tahun ini merupakan hal positif bagi pertumbuhan PDB tahun 2024, yang diproyeksikan mencapai 3,2%, meskipun inflasi yang tinggi, pelemahan naira, dan pengetatan kebijakan akan menjadi hambatan,” laporan IMF dikutip CNBC International, Rabu (6/3/2024).

“Dengan sekitar 8% penduduk Nigeria yang menganggap rawan pangan, mengatasi meningkatnya kerawanan pangan adalah prioritas kebijakan yang mendesak,” tambahnya.

Baca: Perang Waria Thailand VS Filipina Pecah di Bangkok, Ini Kronologinya

Inflasi tahunan mencapai 29,9% pada bulan Januari. Ini didorong oleh melonjaknya harga pangan yang memicu krisis biaya hidup di negara dengan perekonomian terbesar di Afrika itu.

Sementara itu, mata uang naira anjlok ke titik terendah sepanjang masa. Sekitar 1.600 terhadap dolar AS pada akhir Februari.

Sebenarnya, pemerintahan Presiden Bola Tinubu yang mulai berkuasa pada Mei 2023, diketahui telah meluncurkan serangkaian reformasi ekonomi yang bertujuan untuk meliberalisasi perekonomian seperti kebijakan penghapusan subsidi bahan bakar dan pelonggaran kontrol mata uang. Di sisi lain, Bank Sentral Nigeria (CBN) baru-baru ini untuk menaikkan suku bunga sebesar 400 basis poin menjadi 22,75%, dalam upaya untuk menahan inflasi dan mengurangi tekanan pada naira.

Meskipun disambut baik oleh investor asing, dampak jangka pendek memunculkan berbagai permasalahan makroekonomi. Salah satunya adalah Gubernur CBN Olayemi Cardoso, yang tampak khawatir dengan kebijakan pemerintah.

Pengumuman tingkat suku bunga mendapat sambutan yang hati-hati dari investor, karena naira menguat terhadap dolar di pasar resmi dan pasar paralel,” kata David Omojomolo, ekonom Afrika di Capital Economics.

“Cardoso (juga) mungkin merasa bahwa upaya melawan inflasi yang dilakukan CBN tidak terbantu oleh keputusan pemerintah untuk memperkenalkan kembali bantuan tunai kepada rumah tangga,” tambahnya.


Swasta “Peyot”

Di sisi lain, data pekan lalu juga menunjukkan bahwa momentum sektor swasta di Nigeria penyot. Swasta melambat pada bulan Februari, dengan PMI (indeks manajer pembelian) Stanbic IBTC Bank turun menjadi 51,0 dari 54,5 pada bulan Januari.

Setiap angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi, dan PMI Nigeria tetap berada di wilayah positif selama tiga bulan terakhir. Namun, rata-rata setahun penuh menurun dari 53,9 pada tahun 2022 menjadi 50,4 pada tahun 2023.

Pieter Scribante, ekonom politik senior di Oxford Economics Africa, mengatakan tingginya harga input dan inflasi biaya output menghambat kepercayaan sektor swasta dan aktivitas bisnis.

“Gangguan pada perekonomian non-minyak, volatilitas mata uang, lonjakan inflasi, kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi, serta kekurangan pangan akan tetap menjadi masalah sepanjang tahun 2024, sementara meningkatnya tekanan harga, ketidakpastian kebijakan, dan melemahnya belanja konsumen menghambat aktivitas dan pertumbuhan ekonomi,” Scribante mengatakan dalam catatan penelitian.

Oxford Economics memperkirakan pertumbuhan PDB riil sebesar 2,8% pada tahun 2024 karena perbaikan di sektor hidrokarbon mengimbangi kelemahan ekonomi non-minyak.

“Tahun ini, pemulihan industri dalam negeri, peningkatan investasi asing, dan penurunan inflasi merupakan risiko positif,” tambah Scribante.

“Sebaliknya, faktor risiko penurunannya adalah harga yang kaku, pelemahan nilai tukar, volatilitas harga minyak, dan ketidakamanan dalam https://pembangkitkuku.com/negeri,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*